Jumat, 30 Maret 2012

Penelitian Tindakan Kelas BAB I


PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun 2007 mengenai Standar Kompetensi Guru menyatakan bahwa guru harus memiliki empat kompetensi utama yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Salah satu aspek kompetensi pedagogik adalah guru mampu melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Hal itu dapat dilakukan antara lain dengan penelitian tindakan kelas. Guru juga harus memiliki kompetensi profesional yaitu mampu mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif yang diantaranya juga dengan melakukan penelitian tindakan kelas.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada dasarnya merupakan kegiatan nyata yang dilakukan guru dalam rangka memperbaiki mutu pembelajaran di kelasnya. Secara ringkas, PTK dimulai dari tahap perencanaan setelah ditemukannya masalah dalam pembelajaran, dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia. Kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan tugas-tugas guru yang cukup komplek dan unik, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara kontinyu guru dapat meningkatkan kompetensinya.
Usman (2002) menyatakan bahwa guru dengan kompetensi tinggi adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga Ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.
Berdasarkan pernyataan di atas, coba Anda lakukan refleksi diri masing-masing. Apakah Anda sudah melaksanakan tugas secara maksimal? Sebagai guru, Anda perlu memahami bahwa salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah mendidik, mengajar, dan melatih siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi siswa dalam kehidupannya. Dalam melaksanakan tugas tersebut, guru seyogyanya tidak hanya mampu mengajarkan pengetahuan dan mendidik siswa agar menjadi manusia yang berbudi luhur, tetapi juga guru harus mampu mengajarkan keterampilan hidup dan melatih siswa agar dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam kehidupannya di masyarakat. Hal ini berarti bahwa guru dituntut mampu menguasai bidang studi yang diampunya dan membelajarkannya pada siswa secara profesional. Oleh sebab itu, guru seyogyanya selalu melakukan penilaian terhadap kinerjanya sendiri, terutama dalam pembelajaran di kelas, sehingga guru akan dapat mengetahui bahwa pembelajarannya perlu diperbaiki kualitasnya. Dengan demikian, guru akan dapat secara terus-menerus berusaha melakukan perbaikan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Guru yang inovatif, kreatif, dan produktif adalah guru yang selalu mencari dan menemukan hal-hal baru dan mutakhir untuk kepentingan kualitas pembelajaran di kelas.. Kemampuan tersebut dapat dilihat dari upaya guru dalam melakukan perbaikan kualitas proses pembelajaran melalui penelitian yang dilaksanakan dalam lingkup kelasnya sendiri atau lebih dikenal dengan sebutan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

2. PENGERTIAN, KARAKTERISTIK, DAN MANFAAT PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akhir-akhir ini telah menjadi trend untuk dilakukan oleh guru sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu jenis penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya. Menurut Suharsimi (2002) bahwa PTK merupakan paparan gabungan definisi dari tiga kata ”penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat bagi peneliti atau orang-orang yang berkepentingan dalam rangka peningkatan kualitas diberbagai bidang. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam pelaksanaannya berbentuk rangkaian periode / siklus kegiatan. Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama dan tempat yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru yang sama. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan terjemahan dari classroom Action Research yaitu suatu Action Research (penelitian tindakan) yang dilakukan di kelas.
Menurut John Elliot (1982) bahwa PTK adalah tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya mencakup; telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh yang menciptakan hubungan antara evaluasi diri dengan perkembangan profesional. Pendapat lain, Kemmis dan Mc Taggart (1988) mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan praktik sosial. Sedangkan Carr dan Kemmis menyatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa, atau kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari: (a) praktik-parktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik tersebut, (c) situasi-situasi (lembaga-lembaga) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengkaji mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Agar Anda dapat lebih memahami makna PTK secara utuh dan benar, sebaiknya kita kaji juga makna kelas dalam PTK.
Makna kelas dalam PTK adalah sekelompok peserta didik (siswa) yang sedang belajar yang tidak hanya terbatas di dalam ruangan tertutup saja, tetapi dapat juga ketika siswa sedang melakukan karyawisata, praktik di laboratorium, bengkel, di rumah, atau di tempat lain, atau ketika siswa sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dengan demikian, komponen dalam suatu kelas yang dapat dikaji melalui PTK adalah
a. Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas / lapangan / laboratorium atau bengkel, maupun ketika siswa sedang asyik mengerjakan tugas rumah di malam hari, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.
b. Guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa yang sedang berdarmawisata, atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
c. Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai bahan yang ditugaskan kepada siswa.
d. Peralatan atau sarana pembelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran, yang dicermati dapat guru, siswa, atau keduanya.
e. Hasil pembelajaran, merupakan produk yang harus ditingkatkan dan terkait dengan proses pembelajaran, sarana pembelajaran, guru, atau siswa itu sendiri.
f. Pengelolaan, merupakan kegiatan yang sedang diterapkan dan dapat diatur / direkayasa dalam bentuk tindakan. Misalnya yang dapat digolongkan kegiatan pengelolaan adalah cara mengelompokkan siswa, pengaturan tempat duduk, cara guru memberikan tugas, penataan peralatan pembelajaran, dan sebagainya.

Karakteristik PTK
Berdasarkan pengertian di atas, kita dapat memperoleh ciri atau karakteristik dari PTK dibandingkan dengan penelitian lain, yaitu:
1. Masalah pada PTK muncul dari kesadaran pada diri guru, yang harus diperbaiki dengan prakarsa perbaikan dari gru itu sendiri, bukan oleh orang dari luar. Dengan demikian, masalah dalam PTK berasal dari permasalahan nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis.
2. PTK merupakan penelitian yang dilakukan melalui refleksi diri (self reflective inquiry). Untuk melakukan refleksi, guru sebaiknya bertanya pada diri sendiri, misalnya:
        Apakah penjelasan saya terlalu cepat?
        Apakah saya sudah memberi contoh konkrit dan memadai?
        Apakah hasil latihan di kelas / pekerjaan siswa sudah saya komentari?
        Apakah bahasa yang saya gunakan dapat mudah dipahami siswa?
3. PTK dilakukan di dalam kelas. Fokus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran di kelas yang berupa prilaku guru dan siswa dalam beriteraksi.
4. PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan terus-menerus selama PTK dilakukan. Oleh sebab itu, dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan yang meliputi: perencanaan – pelaksanaan – observasi – refleksi – revisi (perencanaan ulang).
5. PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesinalisme guru, karena PTK mampu membelajarkan guru untuk berfikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan guru untuk menulis, dan membuat catatan.




Manfaat PTK
Menyimak pengertian dan karakteristik PTK di atas, Anda tentu telah mengenal bahwa dalam PTK ada 3 (tiga) komponen yang menjadi sasaran utama PTK, yaitu siswa / pembelajaran, guru, dan sekolah. Tiga komponen itulah yang akan menerima manfaat dari PTK.
a. Manfaat bagi siswa dan pembelajaran
Tujuan PTK adalah memperbaiki kualitas proses pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki hasil belajar siswa, sehingga PTK mempunyai manfaat yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dengan adanya pelaksanaan PTK, kesalahan dan kesulitan dalam proses pembelajaran (baik strategi, teknik, konsep, dan lain-lain) akan dengan cepat dapat dianalisis dan didiagnosis, sehingga kesalahan dan kesulitan tersebut tidak akan berlarut-larut. Jika kesalahan yang terjadi dapat segera diperbaiki, maka pembelajaran akan mudah dilaksanakan, menarik, dan hasil belajar siswa diharapkan akan meningkat.
Ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara pembelajaran dan perbaikan hasil belajar siswa. Keduanya akan dapat terwujud, jika guru memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan PTK.
Selain PTK dapat meningkatkan hasil belajar siswa, PTK yang dilakukan oleh guru dapat menjadi model bagi siswa dalam meningkatkan prestasinya. Guru yang selalu melakukan PTK yang inovatif dan kreatif akan memiliki sikap kritis dan reflektif terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Sikap kristis inilah yang akan dijadikan model bagi siswa untuk terus merefleksi diri sebagaimana yang dilakukan oleh gurunya.

b. Manfaat bagi guru.
Beberapa manfaat PTK bagi guru antara lain:
1. Guru memiliki kemampuan memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi dikelasnya. Keberhasilan dalam perbaikan ini akan menimbulkan rasa puas bagi guru, karena Ia telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi siswanya melalui proses pembelajaran yang dikelolanya.
2. Dengan melakukan PTK, guru dapat berkembang dan meningkatkan kinerjanya secara profesional, karena guru mampu menilai, merefleksi diri, dan mampu memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya. Dalam hal ini, guru tidak lagi hanya sebagai seorang praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama ini, namun juga sebagai peneliti dibidangnya yang selalu ingin melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
3. Melalui PTK, guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri. Guru tidak hanya menjadi penerima hasil perbaikan dari orang lain, namun guru itu sendiri berperan sebagai perancang dan pelaku perbaikan tersebut, sehingga diharapkan dapat menghasilkan teori-teori dan praktik-praktik pembelajaran.
4. Dengan PTK, guru akan merasa lebih percaya diri. Guru yang selalu merefleksi diri, melakukan evaluasi diri, dan menganalisis kinerjanya sendiri di dalam kelas, tentu saja akan selalu menemukan kekuatan, kelemahan, dan tantangan pembelajaran dan pendidikan masa depan, dan mengembangkan alternatif pemecahan masalah / kelemahan yang ada pada dirinya dalam pembelajaran. Guru yang demikian adalah guru yang memiliki kepercayaan diri yang kuat.

c. Manfaat bagi sekolah Sekolah yang para gurunya memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerjanya secara profesional, maka sekolah tersebut akan berkembang pesat. Ada hubungan yang erat antara berkembangnya suatu sekolah dengan berkembangnya kemampuan guru. Sekolah tidak akan berkembang, jika gurunya tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri. Kaitannya dengan PTK, jika sekolah yang para gurunya memiliki keterampilan dalam melaksanakan PTK tentu saja sekolah tersebut akan memperoleh manfaat yang besar, karena peningkatan kualitas pembelajaran mencerminkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

3. ALASAN PENOLAKAN (KARYA TULIS ILMIAH DALAM KEGIATAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU).

KTI harus APIK, yang artinya: Asli, Perlu, Ilmiah, Konsisten.  Bila tidak? Tidak dapat dinilai

1. KTI TIDAK ASLI
  • Data yang tidak konsisten, lokasi, nama sekolah, dan data yang dipalsukan, lampiran yang tidak sesuai, dan lain-lain.
  • Waktu pelaksanaan PTK yang tidak wajar (misalnya dalam satu tahun, mengajukan lebih dari dua buah KTI hasil penelitian
  • KTI dari guru yang sama, sangat berbeda kualitasnya.
  • KTI yang dibuat dalam waktu yang berbeda (misalnya tahun-tahun yang berbeda) mempunyai kesamaan mencolok satu dengan yang lain.
  • KTI sangat mirip skipsi, tesis atau desertasi (yang sangat mungkin karya orang lain, atau karya yang bersangkutan).
  • KTI yang umumnya berasal dari daerah yang sama, sangat mirip.
  • Tinjauan / gagasan ilmiah, hanya berupa: (a) diskripsi hal yang terlalu umum, (b) tidak terkait dengan permasalahan di sekolah/kelasnya,  (c) tidak berkaitan dengan kegiatan ybs sebagai guru di kelasnya.
  • Tulisan ilmiah populer namun (a) tidak terkait dengan permasalahan di sekolah/kelasnya, (b) tidak berkaitan dengankegiatan ybs sebagai guru di kelasnya.
  • Prasaran ilmiah namun mempermasalahkan hal-hal di luar kegiatan pengembangan profesi guru
  • Laporan penelitian di luar bidang pendidikan / pembelajaran, lebih merupakan penelitian isi bidang studi.
  • Laporan Penelitian Pembandingan namun (a) tidak tampak kegiatan nyata apa yang telah dilakukan guru dalam kegiatan pengembangan profesi, (b) bahasan hanya sebatas membandingkan variabel yang telah jelas jawabannya
  • Penelitian deskriptif, namun: (a) tidak jelas kegiatan pengembangan profesinya. (b) bahasan sebatas mendeskripsikan data tentang siswanya dalam kaitannya dengan sesuatu.
  • Laporan Penelitian Korelasi namun (a) tidak jelas kegiatan nyata apa yang telah dilakukan guru dalam kegiatan pengembangan profesi, (b) bahasan hanya sebatas mengkorelasikan variabel yang telah jelas jawabannya
  • Laporan penelitian, namun (a) latar belakang masalah tidak jelas sehingga tidak dapat menunjukkan pentingnya hal yang dibahas dan hubungan masalah dengan upaya guru untuk mengembangkan profesinya dan atau (b) rumusan masalah tidak jelas
  • Laporan penelitian, namun (a) tidak terdukung oleh kebenaran teori, kebenaran fakta dan kebenaran analisisnya, (b) metode penelitian, sampling, data, analisis hasil yang tidak / kurang benar.
  • Laporan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) namun tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan, juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.
  • PTK namun (a) hanya berupa laporan pembelajaran biasa, (b) tahapan dalam siklus hanya sama dengan tahapan pembelajaran, (c) siklus kegiatan hanya dilaksanakan dalam satu pertemuan.
  • PTK namun (a) metode penelitian belum mengemukakan tahapan,tindakan tiap siklus dan indikator keberhasilannya tidak jelas (b) hasil dan pembahasan belum melaporkan data lengkap tiap siklus, perubahan yang terjadi pada siswa, guru atau kelas serta bahasan terhadap keseluruhan hasil penelitian (c) lampiran belum lengkap Penelitian eksperimen, tidak mengikuti kaidah penulisan laporan penelitian eksperimen tidak berkaitan dengan tugas guru dalam tugas pembelajarannya (a) tidak sesuai dengan tugas si penulis sebagai guru , (b) tidak sesuai keahlian atau tugas pokok penulisnya, (c)tidak berkaitan dengan upaya penulis untuk mengembangkan profesinya sebagai guru permasalahan yang dikaji bukan di bidang pendidikan. Tinjauan Ilmiah namun (a) sistematikanya hanya berupa pendahuluan, pembahasan, simpulan/penutup, (b) Tidak dijumpai adanya fakta dan gagasan penulis dalam membahas/mengatasi masalah. Prasaran ilmiah dilaksanakan di pertemuan ilmiah yang tidak memenuhi syarat.
  • Diktat namun (a) Isi diktat belum sesuai dengan persyaratan, (b) Isi diktat tidak lengkap, (c) Tidak sesuai dengan fungsinya sebagai diktat, (d) Hanya untuk satu triwulan atau satu semester MODUL namun (a) Isi modul belum sesuai dengan persyaratan, (b) Isi modul tidak lengkap, (c) Tidak sesuai dengan fungsinya sebagai modul.
  • BUKU Pelajaran namun (a) Isi buku pelajaran belum sesuai dengan persyaratan. (b) Isi buku pelajaran tidak lengkap, (c) Tidak sesuai dengan fungsinya sebagai buku pelajaran,
  • KARYA TULIS ILMIAH telah KADALUWARSA, pernah dinilai dan disarankan untuk diperbaiki, namun tidak tampak upaya perbaikan sesuai dengan saran terdahulu, atau perbaikannya tidak sesuai dengan saran, pernah dinilai dan disarankan untuk membuat KARYA TULIS ILMIAH baru, namun ternyata KTI yang sama tetap saja diajukan kembali.
  • KARYA TULIS ILMIAH yang diusulkan tidak jelas jenisnya
  • KARYA TULIS ILMIAH tersebut telah cukup baik, tetapi BELUM melampirkan kelengkapan telah cukup baik, namun belum ada persetujuan dari kepala sekolah atau yang lain prasaran tetapi tidak dilengkapi dengan bukti fisik seperti (a) pernyataan dari penyelenggara seminar, (b) piagam –bila ada, (c) daftar hadir dan lain-lain.
  • KTI diajukan oleh guru BK menunjukkan ketidakjelasan apa peran guru BK yang terkait dengan permasalahan yang dibahas dalam KTInya, perlu diperjelas diajukan oleh kepala sekolah menunjukkan adanya ketidakjelasan apa peran kepala sekolah yang terkait dengan permasalahan yang dibahas dalam KTInya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar